Au Pair, FSJ, Hamburg, Jerman, Kue, Mannheim, Masakan, Oberursel, Resep, Traveling, Weekend

Merindu Mannheim

Baru kali ini saya merasakan betapa tinggal hanya satu tahun setengah di sebuah kota yang tak besar-besar amat, menjadi sesuatu yang sangat terkenang di hati. Bagaimana tidak, dua bulan pindah dari Mannheim, saya sudah merasa amat kangen dan ingin bertandang ke kota itu lagi. Mannheim memang tak secantik Roma, Barcelona, atau Paris, tapi ia menyimpan sejuta kenangan manis. Saya benar-benar merasakan ada di “rumah” saat tinggal di sana. Bagaimana tidak, rekan-rekan kerja saya begitu amat baik dan kooperatif, saya dikelilingi teman-teman baik, dan terutama, di sanalah saya pertama kali diperkenalkan pada seseorang, yang menjadi kecintaan saya.

Saya tak sabar menunggu besok, bernostalgia dan bertemu kawan-kawan tersayang.

Uncategorized

Dua bulan di Hamburg

Terhitung hampir dua bulan lamanya saya pindah ke kota ini. Kota yang terkenal dengan kota sibuk karena pelabuhannya. Awalnya sangat berat meninggalkan kota di mana saya telah menambatkan hati, Mannheim. Satu setengah tahun di Mannheim rasanya tidak cukup untuk mengeksplorasi kota itu. Saya merasakan pertama kali apa itu “kebebasan” setelah satu tahun hidup di rumah orang. Rasanya seperti bisa bernafas dengan lega. Ya, karena saya bisa tinggal di sebuah ruangan sendiri, dengan kamar mandi dan dapur sendiri. Saya bisa menentukan kapan saja saya mau menerima tamu, saya bisa dengan senang hati mengundang dan menjamu siapapun yang datang menemui saya.

Balik lagi ke Hamburg. Saya kembali merasa tertantang untuk membuat kontak baru, berkenalan dengan orang-orang baru, dan bertukar pikiran ataupun menikmati waktu bersama mereka.

Terhitung sejal 2015, sudah tiga kali ini saya melakukan perjalanan ke Hamburg. Perjalanan pertama ketika status saya menjadi Au-Pair, tahun 2015 saya berangkat naik Meinfernbus dengan harga 11 Euro, selama delapan jam. Saya dijemput oleh Maisyara, teman dari teman kenalan saya di Bad Homburg. Kami jalan bareng melihat-lihat Hamburg, Denmark, hingga ke Swedia. Kami hanya membayar 11 Euro dari Hamburg ke Denmark dengan Meinfernbus, sudah termasuk ongkos penyeberangan Feri. Tahun 2016 saya kembali lagi untuk menikmati liburan musim panas. Tahun 2017, saya pindah ke Hamburg. Kehidupan memang penuh keajaiban :).

Setelah saya pikir-pikir, ada beberapa hal yang membuat saya jatuh cinta pada kota ini. Meskipun awalnya saya tidak terlalu nyaman karena orang-orangnya yang cenderung dingin dan tidak banyak tertawa seperti di Jerman bagian selatan, banyak hal-hal yang membuat saya bersyukur bisa tinggal di kota ini, diantaranya fasilitas sepeda gratis dari kota.

Dari tempat tinggal saya, jalan beberapa langkah sudah ada semacam Halte atau stasiun dimana sepeda itu diparkir. Kita bisa mendaftar, mengundug Aplikasi, dan menggunakannya. Jika kita menggunakan sepeda kurang dari setengah jam, tak perlu kita mengeluarkan uang. Kalau saya, karena mau hemat, jadi sebelum tepat tiga puluh menit, balikin sepeda, lalu pinjem lagi :p.

Selain fasilitas StadtRad atau sepeda kota nya, infrastruktur juga mendukung. Ada jalan khusus untuk pengendara sepeda, jadi saya tidak pernah khawatir kalau sampe nabrak-nabrak warung atau lapak yang tiba-tiba buka jualannya di jalan khusus pengendara sepeda (?). Ditambah lagi, jalan di Hamburg bener-bener (hampir semua) datar, jadi ngga perlu ngos-ngosan naik turun gunung kaya naik sepeda di Oberursel dulu.

Jadi kesimpulannya, selain bisa tinggl satu kota dengan kecintaan, saya juga jatuh cinta pada sepeda di Hamburg. Apalagi buat non pemegang tiket kereta bulanan seperti ini, sepeda dari pemerintah/kota itu adalah sesuatu yang sangat bisa disyukuri, kan bisa hemat yak *tetep aja*.